Recent post
A Peristiwa-Peristiwa Politik Penting Pada Masa Orde Baru
1. Tritura (Tri Tuntutan Rakyat)
Aksi yang dilakukan oleh Gerakan 30 September segera diketahui oleh
masyarakat bahwa PKI terlibat di dalamnya. Oleh karena itu berbagai
elemen masyarakat melakukan demonstrasi-demonstrasi menuntut kepada
pemerintah untuk membubarkan PKI beserta ormas-ormasnya. Akan tetapi
pemerintah tidak segera mengambil tindakan yang tegas terhadap PKI yang
telah melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Apalagi
kondisi ekonomi yang memburuk, harga-harga membumbung tinggi sehingga
menambah penderitaan rakyat. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya
kesatuan-kesatuan aksi. Pada tanggal 25 Oktober 1965 terbentuklah
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Selanjutnya diikuti oleh
kesatuan- kesatuan aksi yang lain, misalnya Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar
Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan
Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI),
Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia
(KAGI). Ketika gelombang demonstrasi yang menuntut pembubaran PKI
semakin keras pemerintah tidak segera mengambil tindakan. Oleh karena
itu pada tanggal 10 Januari 1966 KAMI dan KAPPI memelopori
kesatuan-kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila mendatangi
DPR- GR menuntut Tiga Tuntutan Hati Nurani Rakyat yang terkenal dengan
Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Adapun Tri Tuntutan Rakyat itu adalah
sebagai berikut.
a. Pembubaran PKI.
b. Pembersihan kabinet dari unsur-unsur G 30 S / PKI.
c. Penurunan harga/perbaikan ekonomi.
Ketiga tuntutan di atas menginginkan perubahan di bidang politik,
yakni pembubaran PKI beserta ormasormasnya dan pembersihan kabinet dari
unsur G30 S /PKI. Selain itu juga keinginan adanya perubahan ekonomi
yakni penurunan harga.
2. Surat Perintah Sebelas Maret
Aksi untuk menentang terhadap G 30 S /PKI semakin meluas menyebabkan
pemerintah merasa tertekan. Oleh karena itu setelah melakukan
pembicaraan dengan beberapa anggota kabinet dan perwira ABRI di istana
Bogor pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Sukarno akhirnya menyetujui
memberikan perintah kepada Letnan Jenderal Suharto sebagai Panglima
Angkatan Darat dan
Pangkopkamtib untuk memulihkan keadaan dan wibawa pemerintah. Surat
mandat ini terkenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret 1966
(Supersemar).
3. Sidang Umum MPRS
Sidang Umum IV MPRS yang diselenggarakan pada tanggal 17 Juni 1966
telah menghasilkan beberapa ketetapan yang dapat memperkokoh tegaknya
Orde Baru antara lain sebagai berikut.
1) Ketetapan MPRS No. IX tentang Pengukuhan Surat Perintah Sebelas Maret.
2) Ketetapan MPRS No. XXV tentang Pembubaran PKI dan
ormasormasnya serta larangan penyebaran ajaran Marxisme- Komunisme di
Indonesia.
3) Ketetapan MPRS No. XXIII tentang Pembaruan Landasan Kebijakan Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan.
4) Ketetapan MPRS No. XIII tentang Pembentukan Kabinet Ampera yang ditugaskan kepada Pengemban Tap MPRS No. IX.
4. Nawaksara
MPRS meminta pertanggungjawaban terhadap Presiden Sukarno dalam
Sidang Umum MPRS 1966 atas terjadinya pemberontakan G30 S/ PKI,
kemerosotan ekonomi dan moral. Untuk memenuhi permintaan MPRS tersebut
maka Presiden Sukarno menyampaikan amanatnya pada tanggal 22 Juni 1966
yang berjudul Nawaksara (sembilan pasal). Amanat tersebut oleh MPRS
dipandang tidak memenuhi harapan rakyat karena tidak memuat secara jelas
kebijaksanaan Presiden/Mandataris MPRS mengenai peristiwa G 30 S /PKI
serta kemerosotan ekonomi dan moral. Oleh karena itu MPRS meminta kepada
Presiden untuk melengkapi Nawaksara tersebut. Pada tanggal 10 Januari
1967 Presiden Soekarno memberikan pelengkap Nawaksara. Akan tetapi
isinya juga tidak memuaskan banyak pihak. Oleh karena itu DPRGR
mengajukan resolusi dan memorandum tanggal 9 Februari 1967 menolak
Nawaksara berikut pelengkapnya. Selanjutnya DPR- GR mengusulkan kepada
MPRS agar mengadakan Sidang Istimewa untuk memberhentikan Presiden
Soekarno dari jabatan Presiden/Mandataris MPRS dan mengangkat Pejabat
Presiden.
Pada tanggal 22 Februari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan
kepada pengemban Ketetapan MPRS No. IX, Jenderal Soeharto. Peristiwa
penyerahan kekuasaan yang dilakukan atas prakarsa Presiden Soekarno ini
merupakan peristiwa penting dalam upaya mengatasi situasi konflik pada
waktu itu. Penyerahan kekuasaan ini ternyata mendapat tanggapan yang
positif dari masyarakat umum dan ABRI.
5. Politik Luar Negeri
Politik luar negeri Indonesia pada masa yang condong kepada salah
satu blok pada masa Demokrasi Terpimpin merupakan pengalaman pahit bagi
bangsa Indonesia. Oleh karena itu Orde Baru bertekad untuk untuk
mengoreksi bentuk-bentuk penyelewengan politik luar negeri Indonesia
pada masa Orde Lama. Politik luar negeri yang memihak kepada salah satu
blok dinyatakan salah oleh MPRS (kemudian MPR). Indonesia harus kembali
ke politik luar negeri yang bebas dan aktif serta tidak memencilkan
diri. Sebagai landasan kebijakan politik luar negeri Orde Baru telah
ditetapkan dalam Tap No. XII/ MPRS / 1966. Menurut rumusan yang telah
ditetapkan MPRS, maka jelaslah bahwa politik luar negeri RI secara
keseluruhan mengabdikan diri kepada kepentingan nasional. Sesuai dengan
kepentingan nasional, maka politik luar negeri RI yang bebas dan aktif
tidak dibenarkan memihak kepada salah satu blok ideologi yang ada. Namun
bukanlah politik yang netral, tetapi suatu politik luar negeri yang
tidak mengikat diri pada salah satu blok ataupun pakta militer. Sebagai
wujud dari pelaksanaan politik luar negeri bebas dan aktif pada masa
Orde Baru melakukan langkah- langkah sebagai berikut.
1) Menghentikan politik konfrontasi dengan Malaysia setelah
ditandatanganinya persetujuan untuk menormalisasi hubungan bilateral
Indonesia-Malaysia pada tanggal 11 Agustus 1966. Selanjutnya sejak 31
Agustus 1967 kedua pemerintah telah membuka hubungan diplomatik pada
tingkat Kedutaan Besar.
2) Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) pada tanggal 28 September 1966 setelah meniggalkan PBB sejak 1
Januari 1965. Sebab selama menjadi anggota badan dunia, yakni sejak
1950-1964, Indonesia telah menarik banyak manfaatnya.
3) Indonesia ikut memprakarsai terbentuknya sebuah organisasi
kerja sama regional di kawasan Asia Tenggara yang disebut Association of
South East Asian Nations (ASEAN) pada tanggal 8 Agustus 1967.
6. Pemilihan Umum
Pemilihan Umum pada masa Orde Baru pertama kali dilaksanakan pada
tanggal 3 Juli 1971. Pemilu pada waktu itu berbeda dengan pemilu tahun
1955 karena telah menggunakan sistem distrik bukan sistem proporsional.
Dalam sistim distrik ini partai-partai harus memperebutkan perwakilan
yang disediakan untuk sesuatu daerah. Suara yang terkumpul di suatu
daerah tidak dapat dijumlahkan dengan suatu partai itu yang terkumpul di
daerah lain. Pemilu tahun 1977 diikuti oleh 10 kontestan, yakni PKRI,
NU, Parmusi, Parkindo, Murba, PNI, Perti, IPKI, dan Golkar. Dalam pemilu
kali ini dimenangkan oleh Golkar. Pemilu berikutnya dilaksanakan pada
tanggal 2 Mei 1977 yang kali ini diikuti oleh 3 organisasi peserta
pemilu, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya
(Golkar), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Selanjutnya
pemilu-pemilu di Indonesia selama Orde Baru selalu dimenangkan oleh
Golongan Karya.
7. Sidang MPR Tahun 1973
Dengan Pemilu I 1971, maka untuk pertama kali RI mempunyai MPR tetap,
yakni bukan MPRS. Pimpinan MPR dan DPR hasil Pemilu I adalah Idham
Chalid. Selanjutnya MPR ini mengadakan sidang pada bulan Maret 1973 yang
menghasilkan beberapa keputusan di antaranya sebagai berikut.
1) Tap IV /MPR /73 tentang Garis- garid Besar Haluan Negara sebagai pengganti Manipol.
2) Tap IX /MPR /73 tentang pemilihan Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI.
3) Tap XI /MPR /73 tentang pemilihan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Wakil Presiden RI.
Dengan demikian RI telah memiliki Presiden dan Wakil Presiden sesuai dengan amanat UUD 1945.
B, Data Statistik Ekonomi Orde Baru
Pada awal Orde Baru program pemerintah diarahkan untuk menyelamatkan
ekonomi nasional terutama upaya menekan inflasi, penyelamatan keuangan
negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Kenaikan harga pada awal
tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi 650 % setahun tidak
memungkinkan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dengan cepat akan
tetapi harus melakukan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi terlebih
dahulu. Dengan stabilisasi untuk menekan inflasi agar harga
barang-barang tidak membumbung tinggi. Sedangkan rehabilitasi untuk
memperbaiki sarana dan prasarana fisik.
Program “Pembangunan Nasional Berencana” yang dicanangkan Orde Baru
dilaksankan secara bertahap dan terencana melalui Rencana Pembangunan
Lima Tahun (Repelita). Pelita I yang dimulai pada tanggal 1 April 1969
dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus
meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap-tahap berikutnya.
Sedangkan sasaran yang hendak dicapai adalah pangan, sandang, perbaikan
prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja dan kesejahteraan
rohani. Untuk membiayai pembangunan pada Pelita I digali sumber- sumber
keuangan dan tabungan pemerintah, kredit jangka menengah dan jangkan
panjang dari perbankan, penanaman modal dan reinvestasi oleh perusahaan
swasta nasional, perusahaan asing dan perusahaan negara serta bantuan
proyek luar negeri. Dengan melakukan pembangunan maka pada akhir Pelita I
yakni tanggal 31 Maret 1974 terjadi penigkatan dalam bidang ekonomi.
Dalam bidang pertanian terutama beras mengalami kenaikan rata- rata 4 %
setahun. Sedangkan produksi kayu rata-rata 37,4 % setahun. Kenaikan
produksi beras ini dikarenakan adanya perluasan areal pertanian dan
terlaksananya program Bimas dan Inmas serta dengan Panca Usaha Tani.
Selain produksi beras, ekspor ikan dan udang juga mengalami
peningkatan rata-rata 62 % setahun. Produksi industri juga mengalami
kenaikan terutama pupuk Pusri di Palembang dan mulai bekerjanya
Petrokimia Gresik. Sedangkan industri tekstil mengalami kemajuan pesat,
baik dalam produksi benang tenun maupun bahan tekstil. Benang tenun
meningkat dari 177.000 bal pada awal Pelita I menjadi 316. 247 pada
akhir Pelita I, sedangkan bahan tekstil dari 449, 8 juta menjadi 920
juta meter. Adapun grafik produksi beras, industri tekstil, hasil
pengolahan minyak maupun arus wisatawan ke Indonesia dalam kurun waktu
Pelita I adalah sebagai berikut.
Pada Pelita II yang dimulai pada tanggal 1 April 1974 dalam kegiatan
ekonomi di Indonesia banyak menghadapi tantangan. Merosotnya kegiatan
ekonomi di negara-negara industri menyebabkan berkurangnya ekspor
berbagai hasil produksi Indonesia. Sementara itu inflasi yang terjadi di
negara-negara industri menyebabkan naiknya harga barang- barang modal
yang diperlukan dalam pembangunan. Walaupun banyak tantangan dalam
kegiatan ekonomi Indonesia akan tetapi secara keseluruhan dalam Pelita
II pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7 % setahun. Produksi tekstil
meningkat dari 900 juta menjadi 1,3 milyar meter. Bila sebelum Pelita II
Indonesia mengimpor pupuk urea maka pada akhir Pelita II Indonesia
berhasil mengekspor pupuk urea ke negara-negara ASEAN terutama Filipina
dan Muangthai. Sedangkan produksi semen juga meningkat dari 900 ribu ton
menjadi 5 juta ton. Selanjutnya pada tahun 1983 /1984 (akhir Pelita IV)
ekonomi di Indonesia menunjukkan peningkatan, misalnya produksi beras
pada tahun 1973 mencapai 14, 61 juta ton sedangkan pada tahun 1983 /1984
meningkat menjadi 25, 4 juta ton. Sedangkan produksi tekstil pada tahun
1973 mencapai 926, 7 juta meter dan pada tahun 1983 /1984 mencapai
2.347, 2 juta meter. Dengan demikian pembangunan nasional pada waktu itu
mengalami perkembangan.
C. Berakhirnya Orde Baru: Krisis Ekonomi dan Gerakan Reformasi
Perjalanan sejarah Orde Baru yang panjang, Indonesia dapat
melaksanakan pembangunan dan mendapat kepercayaan dari dalam maupun luar
negeri. Rakyat Indonesia yang menderita sejak tahun 1960- an dapat
meningkat kesejahteraannya. Akan tetapi keberhasilan pembangunan pada
waktu itu tidak merata karena terjadi kesenjangan sosial ekonomi yang
mencolok antara si kaya dan si miskin. Bahkan Orde Baru ingin
mempertahankan kekuasaannya terus menerus dengan berbagai cara. Hal ini
menimbulkan berbagai efek negatif. Berbagai bentuk penyelewengan
terhadap nilai- nilai Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 itu
disebabkan oleh adanya tindak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Sejak pertengahan tahun 1996 situasi politik di Indonesia memanas.
Golongan Karya yang berkeinginan menjadi mayoritas tunggal (Single
Majority) mendapat tekanan dari masyarakat. Masyarakat menuntut adanya
perubahan di bidang politik, ekonomi, demokratisasi dalam kehidupan
sosial serta dihormatinya hak asasi manusia. Hasil Pemilihan Umum 1997
yang dimenangkan Golkar dan menguasai DPR dan MPR banyak mengandung
unsur nepotisme. Terpilihnya Jenderal Purnawirawan Soeharto sebagai
Presiden RI banyak mendapat reaksi masyarakat. Sedangkan pembentukan
Kabinet Pembangunan VII dianggap berbau Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme
(KKN).
Pada saat memanasnya gelombang aksi politik tersebut Indonesia
dilanda krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 sebagai pengaruh
krisis moneter yang melanda wilayah Asia Tenggara. Harga-harga kebutuhan
pokok dan bahan pangan membumbung tinggi dan daya beli rakyat rendah.
Para pekerja di perusahaan banyak yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK) sehingga semakin menambah pengangguran. Hal ini diperparah lagi
dengan tindakan para konglomerat yang menyalahgunakan posisinya sebagai
pelaku pembangunan ekonomi. Mereka menambah hutang tanpa kontrol dari
pemerintah dan masyarakat. Akibatnya perekonomian mengalami krisis,
nilai rupiah terhadap dollar merosot tajam hampir Rp.15.000,00
per dollar AS. Perbankan kita menjadi bangkrut dan banyak yang
dilikuidasi. Pemerintah banyak mengeluarkan uang dana untuk Kredit
Likuidasi Bank Indonesia (KLBI) sehingga beban pemerintah sangat berat.
Dengan demikian kondisi ekonomi di Indonesia semakin parah.
Melihat kondisi bangsa Indonesia yang merosot di berbagai bidang
tersebut maka para mahasiswa mempelopori demonstrasi memprotes kebijakan
pemerintah Orde Baru dengan menentang berbagai praktek korupsi, kolusi
nepotisme (KKN). Kemarahan rakyat terhadap pemerintah memuncak pada
bulan Mei 1998 dengan menuntut diadakannya reformasi atau perubahan di
segala bidang baik bidang politik, ekonomi maupun hukum. Gerakan
reformasi ini merupakan gerakan untuk menumbangkan kekuasaan Orde Baru
yang telah mengendalikan pemerintahan selama 32 tahun. Pada awal Maret
1998 Kabinet Pembangunan VIII dilantik, akan tetapi kabinet ini tidak
membawa perubahan ke arah kemajuan. Oleh karena itu rakyat menghendaki
perubahan ke arah yang lebih baik di berbagai bidang kehidupan baik
bidang politik, ekonomi, hukum maupun sosial budaya. Pada awal Mei 1998
mahasiswa mempelopori unjuk rasa menuntut dihapuskannya KKN, penurunan
harga-harga kebutuhan pokok, dan Soeharto turun dari jabatan Presiden.
Ketika para mahasiswa melakukan demonstrasi pada tanggal 12 Mei 1998
terjadilah bentrokan dengan aparat kemananan. Dalam peristiwa ini
beberapa mahasiswa Trisakti cidera dan bahkan tewas. Di antara mahasiswa
Trisakti yang tewas adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hartanto,
Hendriawan Sie, dan Hafidhin Royan.
Pada tanggal 13-14 Mei 1998 di Jakarta dan sekitarnya terjadi
kerusuhan massa dengan membakar pusat-pusat pertokoan dan melakukan
penjarahan. Pada tanggal 19 Mei 1998 puluhan ribu mahasiswa menduduki
gedung DPR/MPR. Mereka menuntut Soeharto turun dari jabatan presiden
akan tetapi Presiden Soeharto hanya hanya mereshufle kabinet. Hal ini
tidak menyurutkan tuntutan dari masyarakat. Pada tanggal 20 Mei 1998
Soeharto memanggil tokoh-tokoh masyarakat untuk memperbaiki keadaan
dengan membentuk Kabinet Reformasi yang akan dipimpin oleh Soeharto
sendiri. Tokoh-tokoh masyarakat tidak menanggapi usul Soeharto tersebut.
Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyerahkan
kekuasaannya kepada wakilnya, B.J. Habibie. Selanjutnya B.J. Habibie
dilantik sebagai Presiden RI menggantikan Soeharto. Pada masa
pemerintahan B.J. Habibie kehidupan politik mengalami perubahan,
kebebasan berserikat telah dibuka terbukti banyak berdiri partai
politik. Pada bulan November 1998 dilaksanakan Sidang Istimewa MPR yang
menghasilkan beberapa keputusan di antaranya adalah tentang pelilihan
umum secepatnya. Selanjutnya Pemilihan Umum setelah berakhirnya Orde
Baru dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 1998 yang diikuti oleh 48 partai
politik. Pada Pemilu kali ini suara terbanyak diraih oleh Partai
Demokrasi Perjuangan (PDIP). Dalam Sidang Umum MPR yang dilaksanakan
pada bulan Oktober 1999 terpilihlah K.H. Abdurrahman Wahid sebagai
Presiden RI dan Megawati Sukarno Putri sebagai Wakil Presiden.
Masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid tidak berlangsung lama
dan diwarnai pertentangan dengan lembaga legislatif. Karena keadaan
dianggap membahayakan keselamatan negara maka MPR mengadakan Sidang
Istimewa pada tanggal 21 Juli 2001. Hasil sidang tersebut memutuskan
memberhentikan Presiden Abdurrahman sebagai Presiden dan melantik
Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden Indonesia. Masa jabatan Presiden
Megawati Soekarnoputri hingga pemilihan umum yang direncanakan pada
tahun 2004. Kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri didampingi oleh
Hamzah Haz yang terpilih sebagai voting (pemungutan suara). Pada masa
pemerintahan Presiden Megawati ada kemajuan dari luar maupun dari dalam
negeri. Akan tetapi dengan adanya kesulitan ekonomi sejak tahun 1997,
pada masa pemerintahan ini belum bisa memulihkan keadaan seperti sebelum
krisis ekonomi. Masa pemerintahan Presiden Megawati berakhir sampai
diselenggarakannya Pemilihan Umum tahun 2004. Pada tanggal 5 April 2004
dilaksanakan pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Pusat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada tingkat propinsi dan
pada tingkat kota atau kabupaten. Adapun hasil pemilu legislatif pada
tingkat pusat sebagai berikut.
Pemilihan Umum untuk memilih presiden secara langsung dilaksanakan
dua kali putara. Putaran pertama pada tanggal 5 Juli 2004 dan putaran
kedua pada tanggal 20 September 2004. Terpilih sebagai presiden adalah
Susilo Bambang Yudhoyono dan sebagai wakil presiden Jusuf Kalla.
Pemilihan Presiden dan wakil presiden oleh rakyat secara langsung ini
merupakan pertama kali dalam sejarah di Indonesia. Sistem ini merupakan
salah satu hasil dari gerakan reformasi di Indonesia.
BAB V
TRAGEDI NASIONAL DAN KONFLIK-KONFLIK INTERNAL YANG LAIN
A. Dampak persoalan hubungan pusat daerah , persaingan
ideologis, dan pergolakan sosial politik lainnya terhadap kehidupan
politik nasional dan daerah sampai awal tahun 1960 an
1. Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat
Gerakan-gerakan di daerah yang menentang kebijakan perimbangan
ekonomi pusat dan daerah muncul pertama kali di Sumatera Barat, dengan
berdirinya Dewan Banteng yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein.
Gerakan ini menuntut otonomi daerah kepada Pemerintah Pusat, serta
pergantian kabinet Djuanda. Menyusul Dewan Banteng, berdirilah beberapa
Dewan Militer diberbagai daerah, seperti :
1. Dewan Gajah (Medan) : Kolonel M. Simbolon
2. Dewan Garuda (Palembang) ; Kolonel Barlian
3. Dewan Lambung Mangkurat (Kalimantan) : Kolonel M. Basri
4. Dewan Manguni (Menado) : Kolonel Ventje Samuel
Letnan Kolonel Ahmad Husein bersama dengan beberapa tokoh sipil yang
lain seperti Syarif Usman, Burhanudin Harahap, dan Syafrudin
Prawiranegara bahkan mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah pusat,
bahwa dalam waktu 5 x 24 jam P.M. Djuanda menyerahkan mandatnya kepada
Presiden dan presiden diminta untuk kembali kepada kedudukan semula
sebagai presiden yang konstitusional.
Gerakan ini bertujuan bukan untuk memisahkan diri dari RI tetapi
gerakan yang bersifat menggantikan pemerintahan yang sah. Untuk menumpas
gerakan ini pemerintah RI melaksanakan beberapa operasi, yaitu :
1. Operasi Tegas [ mengamankan Riau ] dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution
2. Operasi 17 Agustus [ mengamankan Sumatera barat ], dipimpin oleh Kol. A Yani
3. Operasi Saptamarga [ mengamankan Sumatera Utara ] , dipimpin Brigjen Jatikusumo
4. Operasi Sadar [ mengamankan Sumatera Selatan ] dipimpin oleh Letkol Ibnu Sutowo.
Pada tanggal 29 Mei 1961, Ahmad Husein berserta pasukannya menyerahkan diri dan pemberontakan PRRI pun berakhir.
2. Piagam Perjuangan Semesta
Gerakan daerah yang berlatarbelakang perimbangan ekonomi pusat dan
daerah akhirnya meluas ke Sulawesi. Dewan Manguni yang dipimpin oleh
Letkol Ventje Samuel mendukung PRRI dan mengumumkan berdirinya Permesta
pada tanggal 2 Maret 1957. Gerakan ini menuntut dilaksanakannya Repelita
dan pembagian pendapatan daerah secara adil ( daerah surplus mendapat
70% dari hasil ekspor ).
Untuk menumpas gerakan ini pemerintah melaksanakan Operasi Merdeka,
yang merupakan operasi gabungan dan dipimpin oleh Letkol Rukminto
Hendraningrat. Gerakan penumpasan Permesta merupakan operasi yang sangat
sulit, karena medan pertempuran sangat cocok dengan kondisi
pemberontak, serta adanya indikasi keterlibatan pihak asing (AS), yaitu
dengan tertangkapnya pilot helikopter Alan Pope (warga negara Amerika
Serikat) yang berhasil ditembak jatuh oleh pasukan TNI. Pada pertengahan
tahun 1961 sisa sisa pemberontakan Permesta menyerahkan diri dan
memenuhi seruan pemerintah untuk kembali ke tengah tengah masyarakat.
B. Peristiwa Madiun/PKI dan cara yang dilakukan pemerintah dalam penanggulangannya dan konflik-konflik Internal lainnya
Puncak dari gerakan PKI ini adalah tanggal 18 September 1948 dengan
mengumumkan berdirinya Negara Soviet Republik Indonesia di Madiun.
Menyertai gerakan ini, mereka mengadakan aksi-aksi kejam, dengan
mengadakan penculikan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh pemerintah dan
agama. Salah satu tokoh pemerintah yang menjadi korban gerakan ini
adalah Gubernur Jawa Timur, R.M. Suryo yang diculik dan dibunuh.
Gerakan ini merupakan sebuah pengkhianatan dari dalam negeri,
mengingat disaat yang sama pemerintah dan bangsa Indonesia sedang
menghadapi Agresi Militer Belanda dalam rangka mempertahankan
kemerdekaan.
Untuk menumpas pemberontakan ini pemerintah melakukan serangkaian operasi sebagai berikut :
1. Ketika kekacauan di Solo meningkat, pemerintah mengangkat
Kolonel Gatot Subroto menjadi Gubernur Militer Surakarta dan sekitarnya
(Semarang. Pati, Madiun)
2. mengangkat Kolonel Soengkono sebagai Gubernur Militer jawa Timur
3. Menyerahkan pimpinan operasi penumpasan kepada Panglima
Teritorium Jawa Kolonel A.H. Nasution (karena panglima TNI / Panglima
Besar Jenderal Sudirman sedang sakit)
Pada tanggal 30 September 1948 Madiun dapat direbut dan diduduki
kembali oleh pasukan Brigade Siliwangi pimpinan Mayor Ahmad
Wiranatakusumah dan Brigade Jawa Timur pimpinan Kolonel Soengkono. Dalam
operasi ini pimpinan PKI Madiun, Muso berhasil ditembak mati pada saat
akan melarikan diri ke Rusia, sedangkan pimpinan yang lain seperti,
Semaun, Darsono, Alimin, dan Amir Syarifudin berhasil ditangkap dan
dijatuhi hukuman mati dalam pengadilan / mahkamah militer.
Dampak dari pemberontakan PKI Madiun ini adalah :
– Korban pemberontakan PKI dari kedua belah pihak sangat besar, termasuk rakyat yang tidak mengerti soal politik.
– Kekuatan bangsa Indonesia dalam perjuangan menghadapi
Belanda menjadi lemah dan dimanfaatkan Belanda untuk melancarkan agresi
militernya yang kedua
– Keberhasilan menumpas pemberontakan PKI Madiun menimbulkan
simpati dari dunia barat, terutama Amerika Serikat sehingga memperkuat
posisi Indonesia dalam perjuangan diplomasi melawan Belanda
C. Peristiwa DI/TII dan Cara Yang Dilakukan Pemerintah Dalam Penanggulangannya
Gerakan pemberontakan ini berawal dari gagasan / ide Sekarmadji
Maridjan Kartosuwiryo untuk membentuk sebuah negara Islam. Kartosuwiryo
mendirikan Pondok Pesantren Sufah, di Malangbong Jawa Barat. Pada bulan
Pebruari 1948, Kartosuwiryo mengubah gerakan suci melawan Belanda
menjadi sebuah gerakan politik, dengan menobatkan diri sebagai Imam
Negara Islam Indonesia, dan menamakan pasukannya dengan nama Tentara
Islam Indonesia (TII).
Kontak senjata pertama terjadi dengan pasukan TNI dari Divisi
Siliwangi yang baru kembali dari Yogyakarta tanggal 25 Januari 1949.
Sejak saat itu terjadi perang segi tiga antara pasukan DI/TII – TNI –
Belanda.
Tindakan pemerintah dalam menumpas gerakan DI/TII :
- Pendekatan oleh pimpinan Partai Masyumi : Moh. Natsir melalui surat tidak berhasil, bahkan Kartosuwiryo secara resmi membalas surat itu dengan memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949
- Bulan September 1949 untuk kedua kali Moh. Natsir membujuk Kartosuwiryo untuk menghentikan pemberontakan dan kembali ke pangkuan RI, tetapi gagal. Bahkan sejak saat itu rakyat Jawa Barat mulai mengalami teror dari gerombolan DI/TII yang sering melakukan pembunuhan, merampas harta benda rakyat untuk memenuhi kebutuhan logistik pasukan / gerombolan ini.
- Setelah tindakan persuasif tidak berhasil mengembalikan Kartosuwiryo ke pangkuan ibu pertiwi, pemerintah bertindak tegas dengan menggelar Operasi Pagar Betis. Operasi yang dilaksanakan dengan bantuan rakyat Jawa barat ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak gerombolan. Sehingga semakin hari semakin banyak para pengikut Kartosuwiryo yang menyerahkan diri dan kembali ke tengah- tengah masyrakat. Gerombolan DI/TII terdesak di Gunung Geber, Tasikmalaya.
- Akhirnya tanggal 4 Juni 1962, Kartosuwiryo beserta keluarga dan pengikutnya dapat ditangkap hidup-hidup dalam sebuah operasi yang diberi nama sandi Operasi Baratayudha. Dan pada tanggal 16 Agustus Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati.
Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, ternyata mendapat simpati dari berbagai daerah di Indonesia, seperti :
a. Di Jawa Tengah
Gerakan ini diproklamasikan di Desa Pengarasan, kabupaten Tegal pada
tanggal 23 Agustus 1949, dan menyatakan diri bergabung dengan Negara
Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Gerakan ini dipimpin oleh Amir
Fatah, bekas anggota TNI dari kesatuan Hizbullah.
Gerakan dapat ditumpas melalui Operasi Banteng Negara pimpinan
Kolonel Sarbini, Letkol Bachrum dan Letkol Ahmad Yani, pada tahun 1950.
Kemudian di Di Kebumen, Gerakan ini dipimpin
oleh Mohammad Mahfud Abdulrahman atau yang lebih dikenal dengan sebutan
Kyai Sumolangu. Seperti Amir Fatah, gerakan ini juga menyatakan sebagai
bagian dari NII Kartosuwirtyo. Gerombolan ini dapat ditumpas pada tahun
1954 melalui sebuah operasi militer yang diberi nama Operasi Guntur.
b. Di Kalimantan Selatan
Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dipimpin oleh bekas Letnan
Dua TNI yang bernama Ibnu hajar. Ia menamakan pasukannya sebagai
Kesatuan Rakyat yang Tertindas [KRYT].
Semula pemerintah bertindak persuasif terhadap gerakan ini, karena
Ibnu Hajar bersedia kembali bergabung dengan APRIS. Namun tindakan ini
ternyata hanya muslihat Ibnu Hajar supaya pasukannya semakin kuat dana
kembali melakukan pemberontakan. Akhirnya pemerintah bertindak tegas
dengan menumpas habis gerakan ini pada tahun 1959.
c. Di Sulawesi Selatan
Kahar Muzakar memulai gerakannya pada tahun 1951 dan menamakan
gerakannya dengan Komando Gerakan Gerilya Sulawesi Selatan. Ia menuntut
supaya pasukannya dimasukkan ke dalam APRIS dengana nama brigade Hasanudin.Namun
tuntutan ini ditolak pemerintah, tetapi pemerintah memberikan wadah
bagi pasukan kahar Muzakar dengan nama Korps Cadangan Nasional.
Awalnya Kahar Muzakar menerima tawaran pemerintah ini. Pada saat
pasukan ini akan dilantik, Kahar Muzakar dan kelompoknya melarikan diri
ke hutan dengan membawa seluruh peralatan militer yanag akan digunakan
untuk pelantikan. Penipuan Kahar Muzakar ini dibalas pemerintah dengan
melakukan operasi besar besaran dari Divisi Diponegoro. Pada bulan
Pebruari 1965 Kahar Muzakar tertembak mati.
d. Di Aceh
Kekecewaan Tengku Daud Beureuh kepada pemerintah, karena hilangnya
kedudukan militer dan turunnya status Aceh dari sebuah dari istimewa
menjadi karesidenan, menyebabkan Daud Beureuh menyatakan diri bergabung
dengan Negara Islam Indonesia ( 21 September 1953 )
Pemerintah berusaha mengatasi pemberontakan ini dengan mendatangkan
pasukan dari Sumatera Utara dan tengah. Karena terus terdesak pasukan
Daud Beureuh melakukan pemberontakan dari hutan-hutan, di pegunungan
Bukit Barisan.
Selain tindakan represif, pemerintah juga melakukan tindakan
persuasif dengan mengadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aaceh, atas
prakarsa Kolonel M. Yasin (Panglima Kodam I Iskandar Muda). Musyawarah
ini membawa hasil yang sangat positif, karena Daud Beureuh akhirnya
bersedia kembali ke tengah tengah masyarakat Aceh dan menerima Amnesti
dari pemerintah.\
D. Keadaan politik, ekonomi, sosial, dan budaya sebelum terjadinya peristiwa G 30 S / PKI
1. Perubahan Taktik PKI Setelah Kegagalan Tahun 1926 dan 1948
Peristiwa pemberontakan partai Komunis Indonesia yang terjadi pada
tahun 1926 di Jawa barat dan Sumatera barat, serta tahun 1948 di Madiun
merupakan indikasi kuat akan adanya keinginan mendirikan negara komunis,
tetapi gagal. Kegagalan ini menyebabkan D.N. Aidit dan H.M. Lukman yang
baru datang dari luar negeri pada bulan Juli 1950 menata kembali
partainya. Mereka mengubah bentuk perjuangannya menjadi MKTBP ( Metode
Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan ), yaitu :
1. perjuangan gerilya di desa yang teridiri dari kaum buruh tani dan tani miskin
2. perjuangan revolusioner kaum buruh di kota-kota, terutama kaum buruh angkutan
3. bekerja secara intensif di kalangan musuh, terutama di kalangan angkatan bersenjata
Dalam rangka memperlancar MKTBP dibentuk Biro Khusus yang bertugas :
- mengembangkan pengaruh dan ideologi PKI ke dalam tubuh TNI guna menyusun potensi dan kekuatan bersenjata
- mengusahakan agar setiap anggota TNI yang bersedia menjadi anggota dapat membina anggota TNI yang lain.
- mencatat anggota TNI yang telah dibina agar sewaktu waktu dapat dimanfaatkan bagi kepentingannya.
Kondisi sosial ekonomi dan politik Indonesia yang carut marut pada
tahun 1950 an ikut menentukan perkembangan pengaruh PKI, sehingga dapat
tumbuh subur. Posisi PKI semakin mantap setelah terbukti dapat meraih
posisi 4 besar dalam Pemilu I tahun 1955. Adanya konsep NASAKOM dan
terbentuknya Kabinet Dwikora pada tanggal 27 Agustus 1964 sangat
menguntungkan PKI, karena di dalam kabinet ini terdapat orang-orang yang
telah terpengaruh ideologi PKI dan mempunyai posisi yang strategis,
seperti Dr. Soebandrio (Waperdam I) dan Dr. Chaerul saleh (Waperdam II).
PKI juga berhasil mempengaruhi Kolonel Untung Sutopo, komandan pasukan
pengawal presiden dari resimen Cakra Birawa untuk masuk dalam
kelompoknya.
Kepercayaan dan kekuatan yang dimiliki PKI tahun 1965 semakin mantap,
sehingga mereka berani mengusulkan dibentuknya Angkatan ke 5, yaitu
Buruh dan Tani yang dipersenjatai. Namun usulan ini mendapat tantangan
keras dari musuh utama PKI, yaitu Angkatan Darat. Permusuhan PKI dengan
Angkatan Darat semakin meruncing, dengan muncul isu Dewan Jenderal yang
akan menggulingkan kekuasaan Presiden Soekarno. Isu ini bermula dari
ditemukannya dokumen di rumah peristirahatan Duta Besar Amerika Serikat,
Bill Palmer (Konon dokumen ini ditulis oleh Sir Andrew Gilchrist Dubes
Inggris untuk Dubes AS, sehingga dikenal dengan nama ”Dokumen
Gilchrist”) yang isinya menyebutkan adanya persekongkolan para perwira
tinggi Angkatan darat yang tergabung dalam Dewan Jenderal yang dipimpin
oleh Jenderal Abdul Haris Nasution untuk menggulingkan kekuasaan
Presiden Soekarno. (catatan : sampai sekarang kebenaran dokumen ini
masih diragukan).
Munculnya isu ini menimbulkan perasaan curiga dan saling tuduh antara
PKI dengan Angkatan Darat. Situasi semakin memanas, dan menimbulkan
rencana PKI untuk menyingkirkan para perwira tinggi Angkatan Darat yang
tidak dapat dipengaruhi oleh ideologi PKI.
2. Konfrontasi Dengan Malaysia
Latar belakang peristiwa :
Tahun 1961 Inggris merencanakan untuk memberi kemerdekaan kepada
Federasi Malaya, yang wilayahnya meliputi : Semenanjung Melayu, Brunei,
Singapura, Sabah dan Serawak. Rencana ini ditentang oleh Indonesia dan
Philipina. Presiden Soekarno menganggap berdirinya Federasi Malaya
sebagai bentuk dari Neo Kolonialisme Inggris yang sangat membahayakan
revolusi Indonesia yang belum selesai. Sedangkan Philipina menentang
karena wilayah Sabah dahulu merupakan wilayah kasultanan Sulu di
Philipina Selatan.
Untuk menengahi perselisihan tiga anegara tersebut, diadakanlah
Konferensi Maphilindo ( KTT Manila) pada bulan Juli-Agustus 1963, yang
menghasilkan kesepakatan ”bahwa ketiga negara sepakat untuk meminta
Sekjend PBB (U Than) menyelidiki keinginan rakyat-rakyat di daerah yang
akan menjadi anggota federasi”.
Atas kesepakatan tersebut, PBB mengirim diplomat Michelmoore untuk
melakukan penyelidikan, namun belum selesai penyelidikan dilakukan, P.M.
Tengku Abdurrahman sudah mengumumkan berdirinya Federasi Malaya pada
tanggal 16 September 1963, dengan wilayah : Semenanjung Melayu,
Singapura, Sabah dan Serawak.
Tanggal 17 September pemerintah RI mengumumkan pemutusan hubungan
diplomatik dengan Malaysia dan Inggris. Kedutaan Malaysia dan Inggris di
jakarta di demonstrasi oleh ribuan massa pada tanggal 18 September
1963.
Konfrontasi mencapai puncaknya ketika Prersiden Soekarno mengumumkan Dwikora tanggal 3 Mei 1964 yang isinya :
1. Perhebat ketahanan revolusi Indonesia
2. Bantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan
Brunei untuk menggagalkan negara boneka Federasi malaya bentukan
Inggris.
Untuk memperlancar operasi, dibentuk Brigade Sukarelawan Bantuan
Tempur Dwikora pimpinan Kolonel Sobirin Mochtar. Konfrontasi ini terus
berlangsung sampai dengan awal masa orde baru.
3. NEFO dan OLDEFO
Berawal dari KTT Non Blok 1964 di Kairo Mesir, Presiden Saoekarno
memperkenalkan konsep tentang The New Emerging Forces (NEFO) yang
anggotanya terdiri dari negara-negara berkembang dan anti nimperialisme.
Gerakan ini dimaksudkan untuk melawan kelompok yang oleh Soekarno
disebut OLDEFO (Old Establising Frorces) yaitu kelompok negara negara
imperialis pimpinan Amerika Serikat. Namun usaha ini ditentang oleh
Anggota Gerakan Non Blok. Karena kegagalan usaha ini Presiden Soekarno
menjalankan politik diplomasi dengan tujuan:
- usaha menarik negara-negara Afrika dan timur Tengah untuk mendukung rencana Indonesia mengadakan CONEFO (Konferensi Negara NEFO) dengan didahului oleh GANEFO (Games of New Emerging Forces) di Jakarta
- pembentukan poros Jakarta – Pnom Penh – Peking – Pyong Yang sebagai poros anti imperialis dan kolonialis
- Politik Indonesia ini semakin membuat Indonesia terkucil dari pergaulan internasional.
- Keluar dari PBB (7 januari 1965
Alasan Indonesia keluar dari PBB pada tanggal 7 Januari 1965 adalah :
1. kegagalan dalam menghadapi terbentuknya federasi sehingga Indonesia menjalankan politik konfrontasi
2. kegagalan menentang masuknya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Kegagalan-kegagalan ini menjadi pukulan berat bagi pemerintahan
Presiden Soekarno, sehingga memutuskan diri untuk keluar dari
keanggotaan PBB. Keadaan ini semakin mengisolasi pemerintahan Republik
Indonesia dari pergaulan internasional.
E. Peristiwa G 30 S/ PKI dan cara penanggulangannya
Pada tanggal 4 Agustus 1965 kondisi Presiden Soekarno sangat
mengkhawatirkan., pada saat itu beliau sakit muntah muntah dan pingsan,
dan menurut team dokter dari Cina yang memeriksanya terdapat dua
kemungkinan dengan kondisi presiden, yaitu meninggal atau lumpuh.
Diagnosa team dokter dari Cina ini membuat para pimpinan PKI segera
mnengambil sikap untuk secepatnya melakukan gerakan sebelum akhirnya
presiden meninggal.
Dimulai dari desa Lubang Buaya, pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul
03.00 WIB dini hari mereka melakukan Gerakan penculikan terhadap para
perwira tinggi Angkatan Darat, yaitu :
1. Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Abdul Haris Nasution
2. Menteri Panglima Angkatan Darat (MenPangad), Letnan Jenderal Ahmad yani
3. Deputi II Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeprapto
4. Deputi III Panglima Angkatan Darat, Mayor jenderal Haryono Mas Tirtodarmo
5. Asisten I Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soewondo Parman
6. Asisten IV Panglima Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Donald Icasus Panjaitan
7. Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan darat, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomihardjo
Dalam peristiwa penculikan, dari ketujuh Perwira Tinggi Angkatan Darat tersebut mengalami nasib yang tidak sama :
- Jenderal Abdul Haris Nasution berhasil lolos dari penculikan dengan meloncat pagar rumah Wakil Perdana Menteri III Dr. J. Leimena. Tetapi puterinya yang berusia 5 tahun terpaksa menjadi korban keganasan G 30 S / PKI : Ade Irma Suryani Nasution terkena peluru yang ditembakkan oleh PKI. Beliau kemudian bersembunyi di tempat yang dirahasiakan, dengan kondisi kedua kaki terluka.
- Letnan Jenderal Ahmad Yani dan Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan dibawa dalam kondisi meninggal setelah di tembak di rumah beliau masing-masing.
- Haryono M.T., Sutoyo Siswomihardjo, S. Parman dan Soeprapto di bawa dalam keadaan hidup ke desa Lubang Buaya.
- Selain para perwira tinggi tersebut dan Ade irma Suryani, terdapat korban lain keganasan gerombolan ini, yaitu :
a. Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun (ajudan Waperdam III Dr.
J. Leimena) yang tertembak mati, pada saat gerombolan salah sasaran
masuk ke rumah Dr. J. Leimena, yang di kira rumah A.H. Nasution.
b. Letnan Satu Pierre Tendean (ajudan Jenderal AH Nasution) yang ditangkap hidup – hidup karena dikira dia lah Nasution.
c. Polisi Sukitman yang tertangkap secara tidak sengaja pada
saat meronda di sekitar Lubang Buaya. Tetapi berhasil lolos dari maut.
Sementara itu pada tanggal 1 Okto0ber 1965 sore hari terjadi
penculikan dan pembunuhan terhadap Komandan Korem O72, Kolonel Katamso
dan Wakilnya Letnan Kolonel Sugiono.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeharto (Pangkostrad)
mengambil alih pimpinan Angkatan Darat, karena nasib para pemimpin
Angkatan Darat belum diketahui. Pada hari itu juga Mayjend. Soeharto
menunjuk Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (komandan RPKAD) sebagai Komandan
penumpasan Gerakan 30 September di Jakarta, sedangkan di Jawa Tengah
penumpasan di pimpin oleh Pangdam VII Diponegoro Brigjend. Suryo
Sumpeno. Sebagai komandan pasukan penumpasan G 30 S, tugas pertama
Kolonel Sarwo Edhie Wibowo adalah merebut kembali RRI Stasiun Pusat
Jakarta yang telah berhasil dikuasai gerombolan.
Tanggal 2 Oktober 1965 pasukan Kol. Sarwo Edhie melakukan penyisiran
di sekitar Lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, karena dari daerah
inilah (Lubang Buaya) pada tanggal 1 Oktober terdengar suara suara gaduh
dan tembakan. Kedatangan pasukan ini membuat gerombolan yang masih
berada di Lubang Buaya kalang kabut dan melarikan diri, meninggalkan
Brigadir Polisi Sukitman yang masih terikat di pohon.
Berdasarkan petunjuk Brigadir Polisi Sukitman yang berhasil lolos
dari sekapan gerombolan, jenazah para perwira AD dapat ditemukan pada
tanggal 3 Okrtober 1965 dan dimakamkan di TMP Kalibata pada tanggal 5
Oktober 1965. Pada tanggal ini juga Ade Irma Suryani Nasution meninggal
di rumah sakit setelah koma sejak tanggal 1 Oktober 1965..
Operasi penumpasan G 30 S berlangsung diberbagai daerah. Selain di
jakarta dan Jawa Tengah, operasi penumpasan juga dikembangkan untuk
memburu para gembong penculikan sampai daerah Blitar Selatan. Operasi
Militer di Blitar Selatan diberi nama Operasi trisula, sedangkan
diperbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur diberi nama Operasi Kikis.
Operasi-operasi tersebut berhasil menangkap dan menembak tokoh-tokoh G
30 S / PKI. Dalang utama G 30 S / PKI, D.N., Aidit tertembak mati pada
tanggal 24 Nopember 1965.
Tanggal 1 Desember 1965 dibentuk Komando Merapi yang dipimpin oleh
Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk memburu gembong pemberontak yang lari
ke Jawa Tengah. Dalam operasi ini berhasil ditembak mati gembong-gembong
pemberontak, seperti : Kol. Sahirman, Kol. Maryono, Letkol Usman, Mayor
Samadi, Mayor RW Sakirno dan Kapten Sukarno.Sedangkan tokoh-tokoh yang
tertangkap hidup-hidup seperti Letkol Untung Sutopo, diadili dalam
Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada tanggal 14 Pebruari 1966.
BAB IV
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA UNTUK MEREBUT IRIAN BARAT
A. Latar Belakang Pembebasan Irian BaratPengembalian Irian Barat menjadi masalah penting bagi pemerintah Indonesia sejak tahun 1950, yaitu satu tahun setelah penandatanganan KMB. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah Belanda akan menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia satu tahun setelah pengakuan kedaulatan. Keputusan tersebut tidak pernah ditepati oleh Belanda. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia berjuang dengan segala cara untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.
B. Perjuangan Pemerintah RI dalam Upaya Pembebasan Irian Barat
1. Perjuangan Merebut Irian Barat melalui Diplomasi
Sekalipun pada tanggal 17 Agustus 1950 terjadi perubahan ketatanegaraan di Indonesia dari RIS menjadi NKRI, tetapi masalah Irian Barat belum terselesaikan. Berikut ini beberapa langkah diplomasi dalam penyelesaian Irian Barat.
- Tanggal 4 Desember 1950 diadakan konferensi Uni Indonesia Belanda. Dalam konferensi itu Indonesia mengusulkan agar Belanda menyerahkan Irian Barat secara de jure. Namun ditolak oleh Belanda.
- Pada bulan Desember 1951 diadakan perundingan bilateral antara Indonesia dan Belanda. Perundingan ini membahas pembatalan uni dan masuknya Irian Barat ke wilayah NKRI, namun gagal.
- Pada bulan September 1952, Indonesia mengirim nota politik tentang perundingan Indonesia Belanda mengenai Irian Barat, namun gagal.
- Perjuangan Diplomasi Tingkat Internasional
2) Pada tahun 1954 Indonesia mengajukan masalah Irian Barat dalam sidang PBB. Namun mengalami kegagalan karena tidak memperoleh dukungan yang kuat.
3) Dalam KAA tahun 1955 Indonesia mendapat dukungan dalam masalah Irian Barat. Hingga tahun 1956, perundingan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat mengalami kegagalan. Karena mengalami kegagalan dan tidak ada itikad baik dari Belanda untuk menyelesaikannya, maka pemerintah Indonesia mengambil jalan konfrontasi.
2. Perjuangan melalui Konfrontasi
Pemerintah Indonesia secara bertahap mulai mengambil langkah yang konkrit dalam pembebasan Irian Barat. Langkah-langkah tersebut dilakukan melalui konfrontasi ekonomi, politik, dan militer.
a. Konfrontasi Ekonomi
Sejak tahun 1957 Indonesia melancarkan aksi konfrontasi dalam upaya pembebasan Irian Barat. dengan tindakan-tindakan berikut.
1) Nasionalisasi de javasche Bank menjadi Bank Indonesia tahun 1951.
2) Pemerintah Indonesia melarang maskapai penerbangan Belanda (KLM) melakukan penerbangan dan pendaratan di wilayah Indonesia.
3) Pemerintah Indonesia melarang beredarnya terbitan berbahasa Belanda.
4) Pemogokan buruh secara total pada perusahan-perusahaan Belanda di Indonesia yang memuncak pada tanggal 2 Desember 1957.
5) Semua perwakilan konsuler Belanda di Indonesia dihentikan mulai 5 Desember 1957 Pada saat itu juga dilakukan aksi pengambilalihan atau nasionalisasi secara sepihak terhadap perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain Netherlandsche Handel Maatscappij (NHM) menjadi Bank Dagang Negara, Bank Escompto, dan percetakan de Unie.
Tindakan Indonesia yang mengambil alih seluruh modal dan perusahaan Belanda menimbulkan kemarahan Belanda, bahkan negara-negara Barat sangat terkejut atas tindakan Indonesia tersebut. Akibatnya hubungan Indonesia-Belanda semakin tegang, bahkan PBB tidak lagi mencantumkan masalah Irian Barat dalam agenda sidangnya sejak tahun 1958.
b . Konfrontasi Politik
Di samping melalui konfrontasi ekonomi, pemerintah RI juga melakukan konfrontasi politik. Pada tahun 1956 secara sepihak Indonesia membatalkan hasil KMB yang dikukuhkan dalam UU No 13 tahun 1956. Kemudian untuk mengesahkan kekuasaannya atas Irian Barat, maka pada tanggal 17 Agustus 1956 pemerintah Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukotanya Soa Siu. Wilayahnya meliputi wilayah yang diduduki Belanda serta daerah Tidore, Oba, Weda, Patani, dan Wasile. Gubernurnya yang pertama adalah Zainal Abidin Syah. Selanjutnya dibentuk Partai Persatuan Cenderawasih dengan tujuan untuk dapat segera menggabungkan wilayah Irian Barat ke dalam RI.
Pada tanggal 4 Januari 1958 pemerintah membentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB). Tujuannya untuk mengerahkan massa dalam upaya pembebasan Irian Barat. Ketegangan Indonesia-Belanda makin memuncak ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1960.
c . Konfrontasi Militer
Untuk meningkatkan perjuangan, Dewan Pertahanan Nasional merumuskan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) yang dibacakan Presiden Soekarno tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta.
Berikut ini isi lengkap Trikora.
- Gagalkan pembentukan Negara boneka Papua buatan colonial Belanda
- Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia
- Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa
1) Membentuk Provinsi Irian Barat gaya baru dengan ibukota Kota Baru.
2) Membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat pada tanggal 13 Januari 1962.
Sebagai Panglima Komando Mandala ditunjuk Mayjen Soeharto. Markasnya berada di Makasar.
Berikut ini tugas Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
1) Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer.
2) Menciptakan daerah bebas secara defacto atau mendudukkan unsur kekuasaan RI di Irian Barat.
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, maka Panglima Mandala menyusun strategi Panglima Mandala.
Berikut ini tahapan-tahapan dalam strategi Panglima Mandala tersebut.
1) Sampai tahun 1962, fase infiltrasi dengan memasukkan 10 kompi sekitar sasaran tertentu
2) Awal tahun 1963, fase eksploitasi dengan mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan, dan menduduki semua pos pertahanan musuh.
3) Awal tahun 1964, fase konsolidasi dengan mendudukkan kekuasaan-kekuasaan RI secara mutlak di seluruh Irian Barat.
Pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi peristiwa Laut Aru. Ketiga MTB yaitu MTB RI Macan Tutul, MTB RI Harimau, dan MTB Macan Kumbang diserang oleh Belanda dari laut dan udara. Dalam pertempuran tersebut, akhirnya MTB Macan Tutul bersama Kapten Wiratno dan Komodor Yos Sudarso terbakar dan tenggelam. Dalam rangka konfrontasi, pemerintah mengadakan operasi militer. Operasi militer yang dilaksanakan antara lain Operasi Serigala (di Sorong dan Teminabuan), Operasi Naga (di Merauke), Operasi Banteng Ketaton (di Fak-Fak dan Kaimana), dan Operasi Jaya Wijaya. Operasi yang terakhir dilaksanakan adalah Operasi Wisnumurti. Operasi ini dilaksanakan saat penyerahan Irian Barat kepada RI tanggal 1 Mei 1963. Pada tanggal yang sama Komando Mandala juga secara resmi dibubarkan.
C. Pelaksanaan Pepera di Irian Barat
Konfrontasi Indonesia dengan Belanda mengenai Irian Barat mendapat perhatian dunia. Badan PBB pun mulai menunjukkan perhatiannya dengan mengutus Ellsworth Bunker (seorang diplomat Amerika Serikat) untuk menengahi perselisihan antara Indonesia dan Belanda. Bunker mengajukan rencana penyelesaian Irian Barat yang terkenal dengan nama Rencana Bunker (Bunker’s Plan). Berikut ini isi Rencana Bunker.
- Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui UNTEA.
- Rakyat Irian Barat harus diberi kesempatan untuk menentukan pendapat, apakah ingin memisahkan diri atau tetap bersatu dengan RI.
- Pelaksanaan penyelesaian Irian Barat selesai dalam jangka waktu dua tahun.
- Untuk menghindari bentrokan fisik di antara pihak yang bersengketa diadakan masa peralihan di bawah pengawasan PBB selama satu tahun.
Berikut ini isi Perjanjian New York.
- Penghentian permusuhan.
- Setelah persetujuan disahkan, paling lambat 1 Oktober 1962 UNTEA menerima Irian Barat dari Belanda. Sejak saat itu, bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera PBB.
- Pasukan Indonesia tetap tinggal di Irian Barat yang berstatus di bawah UNTEA.
- Angkatan Perang Belanda dan pegawai sipilnya berangsur-angsur dipulangkan dan harus selesai paling lambat 11 Mei 1963.
- Bendera Indonesia mulai berkibar 31 Desember 1962 di samping bendera PBB.
- Pemerintah RI menerima pemerintahan di Irian Barat pada tanggal 1 Mei 1963.
- Pada tahun 1969 diadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).
BAB III
BENUA DAN SAMUDRA
Beberapa teori tentang gerakan yang disampaikan oleh para ahli antara lain :
1. Alfred Lothar Wegener (1880 – 1930).
A.l. Wgener dalam bukunya “Die Enstehung der Kontinente und Ozeane” (Asal-usul Benua) 1915 pertama kali mengungkap teori pergeseran benua.
Menurutnya di permukaan bumi pada mulanya hanya ada satu benua yaitu Pangea dan satu samudra yaitu Tethys.
2. Edward Suess 1831 – 1914
Edward menyatakan bahwa persamaan geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India, Australi dan Antartika disebabkan oleh bersatunya daratan-daratan itu pada awal mulanya yang merupakan satu benua disebut Gondwana. Benua yang besar tinggal sisanya, karena yang lain sudah tenggelam dibawah permukaan laut.
Teori yang dipakai sekarang untuk menggambarkan terjadinya benua adalah Lempeng tektonik. Jadi pada mulanya Benua terdiri dari satu yakni Pangea yang kemudian pecah menjadi dua yakni Gondwana dan Laurasia dan pecah lagi sampai akhrnya menjadi 6 benua hingga sekarang.
1. Bagian Penampang Samudra.
a. Lantai Abisal yaitu lantai dasar samudra dengan kedalaman kurang dari 3000 m.
missal : dasar samudra Pasifik, dasar samudra Hindia, dan samudra Atlantik.
b. Palung Laut yaitu jurang di dasar laut yang dalam; terbentuk didaerah sepanjang zona tumbukan antara lempeng benua dan lempeng samudra yang berada didasar laut.
Missal : palung sunda, palung jepang, palung filiphina, palung new Britain dan palung Izu.
c. Igir tengah samudra (mid oceanic ridge) yaitu jalur gunung api yang memanjang di tengah samudra. Jalur ini merupakan pusat pemekaran (spreading center) yang menyebabkan benua-benua pecah dan bergeser letaknya. Jalur ini juga merupakan pusat-pusat gempa bumi.
Missal : igir tengah samudra atlantik.
2. Bagian Penampang Benua.
a. Stable Platform atau daratan stabil yaitu daratan luas yang terhampar di atas Shield.
Missal : daratan Asia, Amerika utara bagian tengah dan Australia.
b. Pegunungan lipatan tepi benua. Misalnya : rangkaian peg. Sirkum pasifik dan mediterania.
c. Shelf atau tepi benua disebut juga paparan benua yaitu bagian dari benua yang tertutup air laut sampai kedalaman 200 m.
missal : dangkalan sahul (paparan benua Australia), dangkalan sunda (paparan benua Asia).
d. Lereng Benua yaitu tebing curam yang merupakan peralihan dari benua ke dasar samudra.
B. Karakteristik Fisik dan Sosial Benua dan Samudra.
1. Karakteristik Fisik dan Sosial.
Luas permukaan bumi 509.951.000 km2 terdiri atas samudra 361.059.000 km2 sisanya daratan/ benua dengan kata lain 70% air dan 30% darat.
Daratan terdiri atas beberapa benua antara lain :
Benua dan Luas di permukaan Bumi
|
No
|
Nama Benua
|
Luas (Km2)
|
|
1
2
3
4
5
6
|
AsiaAmerika
Afrika Eropa Antartika Australia |
47.000.00046.000.000
33.000.000 10.000.000 8.000.000 889.000 |
Benua adalah daratan yang sangat luas yang berada di permukaan bumi; (kontinen). Pada awalnya bumi terbentuk seluruh benua merupakan satu daratan yang amat luas, belum terbagi-bagi oleh pergeseran kerak bumi; daratan tersebut disebut Pangea, pada masa mesozoic terbagi atas dua bagian besar yaitu gondwana di belahan Bumi selatan dan laurasia di belahan Bumi utara.
Samudra (juga dieja samudera) atau lautan (dari bahasa Sanskerta) adalah
laut yang luas dan merupakan massa air asin yang sambung-menyambung
meliputi permukaan bumi yang dibatasi oleh benua ataupun kepulauan yang
besar.
Ada lima samudra di bumi yaitu:
- Samudra Antarktika / Lautan Selatan
- Samudra Arktik
- Samudra Atlantik
- Samudra Hindia
- Samudra Pasifik / Lautan Teduh
A. Benua asia
1. Letak Secara Garis Astronomis dan Luas Wilayah
Benua Asia adalah benua terluas dibanding dengan benua lainnya.
Terbentang dari laut Artik di utara sampai wilayah hujan tropis
Indonesia di tenggara. Luas benua Asia adalah 45.036.492 km2. Benua Asia
memiliki letak astronomis antara 11o LS – 77o LU dan 26o BT – 169o BB.
2. Batas – batas
Secara Geografis Benua Asia memiliki batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara = Samudara Artik
Sebelah Timur = Samudra Pasifik
Sebelah Selatan = Samudra Hindia dan Australia
Sebelah Barat = Pegunungan Ural, dan Laut Kaspia
Sebelah Utara = Samudara Artik
Sebelah Timur = Samudra Pasifik
Sebelah Selatan = Samudra Hindia dan Australia
Sebelah Barat = Pegunungan Ural, dan Laut Kaspia
3. Penduduk
di Asia terdapat beberapa Ras Mongoloid, Ras Negroid, Ras Kaokasoid.
Negara dengan penduduk terpadat adalah RRC dan India. Banyak penduduk di
Asia pada thn 2004 sebanyak 3.680.942.526 jiwa.
4. Puncak Tertinggi dan Titik Terendah Daratan
Puncak tertinggi daratan Asia adalah Mt.Everest dgn tinggi 8.848 m/dpl. Sedangkan titik terendah dratan adalah dasar laut mati di Israel / Jordan dgn dalam 400 m.
Puncak tertinggi daratan Asia adalah Mt.Everest dgn tinggi 8.848 m/dpl. Sedangkan titik terendah dratan adalah dasar laut mati di Israel / Jordan dgn dalam 400 m.
5. Iklim
Iklim dingin
Iklim Kontinetal
Iklim Sub Tropis Basah
Iklim Tropis Basah
Iklim Gurun
Iklim Kontinetal
Iklim Sub Tropis Basah
Iklim Tropis Basah
Iklim Gurun
6. Flora dan Fauna
- Tundra – Ternak
- Padang Rumput - Liar = Gajah, Antelop
- Hutan Hujan Tropis Singa laut dll.
- Fauna di lindungi = Harimau,Komodo.
7. Karakteristik
- Benua Asia sebagai benua terluas.
- Benua yang memiliki penduduk terpadat di dunia.
- Benua penghasil minyak bumi terbesar (negara-negara di jazirah Arab)
- Benua munculnya agama besar di dunia (Islam di Arab, Kristen di Yerussalem ,Hindu dan Budha di India ,dll)
- Benua yang memiliki bangunan bersejarah sebagai keajaiban dunia
seperti Ka'bah di Arab, Tembok Besar di RRC , Taj Mahal di India, dan
Candi Borobudur di Indonesia
B. Benua Amerika
1. Letak Secara Garis Astronomis dan Luas Wilayah Benua Amerika
Benua Amerika merupakan benua terluas kedua setelah benua asia. Benua amerika terbagi atas 3 wilayah yaitu America utara, America tengah, America selatan. Luas benua America adalah 42.495.751 km2. Benua America memiliki letak Astronomis 59o LS – 72o LU dan 36o BB – 163o BT.
Benua Amerika merupakan benua terluas kedua setelah benua asia. Benua amerika terbagi atas 3 wilayah yaitu America utara, America tengah, America selatan. Luas benua America adalah 42.495.751 km2. Benua America memiliki letak Astronomis 59o LS – 72o LU dan 36o BB – 163o BT.
2. Batas – batas
Secara Geografis Benua America memiliki Batas batas sbg berikut :
Sebelah Utara = Laut Artik
Sebelah Timur = Samudra Atlantik
Sebelah Selatan = Samudra Pasifik
Sebelah Barat = Samudra Pasifik
Sebelah Utara = Laut Artik
Sebelah Timur = Samudra Atlantik
Sebelah Selatan = Samudra Pasifik
Sebelah Barat = Samudra Pasifik
3. Penduduk
Penduduk benua America Sebanyak 836.165.880 jiwa .
1. Penduduk asli = Suku eskimo dan Indian
2. Penduduk pendatang = Orang orang Eropa, Inggris, Prancis dll.
3. Penduduk campuran = Ras Mulato, Ras Meztiso, Ras Zambo
4. Puncak Tertinggi dan Titik Terendah Daratan
Puncak tertinggi di benua America adalah Aconcagua dengan tinggi 6.960 m/dpl. Sedangkan titik terendah adalah Death Valley dengan kedalaman 86 m.
Puncak tertinggi di benua America adalah Aconcagua dengan tinggi 6.960 m/dpl. Sedangkan titik terendah adalah Death Valley dengan kedalaman 86 m.
5. Iklim
Iklim dingin
Iklim Kontinetal
Iklim Sub Tropis Basah
Iklim Tropis Basah
Iklim laut
Iklim Kontinetal
Iklim Sub Tropis Basah
Iklim Tropis Basah
Iklim laut
6. Fauna dan Flora
- Hutan Kanivera - Karribau
- Hutan Hujan Tropis – Bizon
- Selvas ( Sungai Amozon ) – Ilama
- Campos ( Brazil ) – Pinguin
7. Karakteristik
- Sebagai benua terpanjang( dari utara sampai selatan)
- Memiliki air terjun tertinggi ( air terjun Angel di Venezuela )
- Memiliki air terjun dengan debit terbesar yaitu air terjun Guaria di Brazil.
- Terdapat Tanah Genting Panama dan Terusan Panama sebagai Penghubung Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik.
C. Benua afrika
1. Letak Secara Garis Astronomis dan Luas
Benua Afrika merupakan benua terluas ke 3. benua afrika memiliki luas
wilayah 30.343.578 km2. Benua Afrika memiliki Letak Astronomis 35o LS –
38o LU dan 17o BT – 57o BT.
2. Batas – batas
Secara Geografis Benua Afrika memiliki Batas batas sbg berikut :
Sebelah Utara = Laut Tengah
Sebelah Timur = Laut Merah dan Samudra Hindia
Sebelah Selatan = Samudra Hindia dan Atlantik
Sebelah Barat = Samudra Atlantik
Sebelah Utara = Laut Tengah
Sebelah Timur = Laut Merah dan Samudra Hindia
Sebelah Selatan = Samudra Hindia dan Atlantik
Sebelah Barat = Samudra Atlantik
3. Penduduk Penduduk Asli afrika adalah Ras Negro. Jumlah penduduk yang menghuni benua Afrika 804.955.500 Jiwa.
1) Ras Negroid
2) Ras Kaukasoid
3) Ras Khusus , Suku Bangsa Pygme
4) Puncak Tertinggi dan Titik Terendah Daratan
Puncak tertinggi di daratan Afrika adalah Gunung Kilimanjaro ( 5.895 m ) Di Tanzania dan titik terendah di dasar danau Assal di Jibouti kedalaman 158 m.
Puncak tertinggi di daratan Afrika adalah Gunung Kilimanjaro ( 5.895 m ) Di Tanzania dan titik terendah di dasar danau Assal di Jibouti kedalaman 158 m.
4. Iklim
Iklim Mediteran
Iklim Sub Tropis
Iklim Tropis
Iklim Gurun
Iklim Sub Tropis
Iklim Tropis
Iklim Gurun
5. Fauna dan Flora
- Hutan Tropis - Gajah
- Stepa ( Padang rumput ) – Jerapah
- Tumbuhan Gurun – Harimau
- Zebra
6. Karakteristik
- Sebagai benua hitam.
- Memiliki gurun terluas yaitu Gurun Sahara.
- Terdapat sungai terpanjang yaitu Sungai Nil.
- Sebagai benua termiskin.
D. Benua eropa
1. Letak Secara Garis Astronomis dan Luas Wilayah Benua Eropa
Eropa merupakan benua terkecil setelah Australia luas benua Eropa 9.908.599 km2. seluruh wilayah Eropa berada pada belahan bumi utara. Eropa memiliki letak astonomis 36o LU – 71o LU dan 9o BB – 66o BT.
Eropa merupakan benua terkecil setelah Australia luas benua Eropa 9.908.599 km2. seluruh wilayah Eropa berada pada belahan bumi utara. Eropa memiliki letak astonomis 36o LU – 71o LU dan 9o BB – 66o BT.
2. Batas – batas
Secara Geografis Benua Eropa memiliki Batas batas sbg berikut :
Sebelah Utara = Laut Es Utara
Sebelah Timur = Peg. Ural dan Laut Kaspia
Sebelah Selatan = Laut Tengah Dan Turki
Sebelah Barat = Samudra Atlantik
Sebelah Utara = Laut Es Utara
Sebelah Timur = Peg. Ural dan Laut Kaspia
Sebelah Selatan = Laut Tengah Dan Turki
Sebelah Barat = Samudra Atlantik
3. Penduduk
Jumlah penduduk eropa pada tahun 2004 sebanyak 725.136.000 jiwa.
1) Subras nordik = Rambut Pirang mata Biru
2) Subras Alpin = Rambut Pirang Mata Coklat
3) Subras Mediteran = Mata agak Coklat Rambut Hitam Bergelombang
4) Puncak Tertinggi dan Titik Terendah Daratan
Puncak tertinggi di dratan Eropa adalah Elbrush ( 5.642 m ) sdngkn titik terendah adalah dasar laut Kaspia dgn dlm 29 m.
Puncak tertinggi di dratan Eropa adalah Elbrush ( 5.642 m ) sdngkn titik terendah adalah dasar laut Kaspia dgn dlm 29 m.
5. Iklim
Iklim laut
Iklim pralihan
Iklim Sub Artik
Iklim pralihan
Iklim Sub Artik
6. Fauna dan Flora
- Padang Tundra - Rusa Kutub
- Hutan Kanivera – Rubah
- Beraneka macam bunga2an - Beruang Kutub
- Camois
7. Karakteristik Benua Eropa
- Mayoritas penduduk tinggal di perkotaan.
- Mendapat julukan benua putih.
- Benua yang pertama menerapkan sistem mata uang tunggal yaitu Euro.
- Memiliki rawa terluas yaitu Rawa Pripet di perbatasan Belarusia-Rusia.
E. Benua australia
1. Letak Secara Garis Astronomis dan Luas Wilayah
Australia adalah benua terkecil, di kelilingi ribuan pulau vulkanikdan
karang di sebelah utara dan timur. Benua Australia mempunyai luas
8.820.962 km2. Australia memiliki letak Astronomis 10o LS – 44o LS dan
113o BT – 153o BT.
2. Batas – batas
Secara Geografis Benua Australia memiliki Batas batas sbg berikut :
Sebelah Utara = Selat Torres, Laut Arafuru
Sebelah Timur = Samudara Pasifik
Sebelah Selatan = Samudra Hindia
Sebelah Barat = Samudra Hindia
Sebelah Utara = Selat Torres, Laut Arafuru
Sebelah Timur = Samudara Pasifik
Sebelah Selatan = Samudra Hindia
Sebelah Barat = Samudra Hindia
3. Penduduk
Penduduk terdiri dari pribumi, seperti Aborigin di Australia, dan Mauri
di New Zealand, serta kaum migran dari Eropa, yang kemudian mendominasi.
Jumlah pend. Di kawasan ini mencapai 38.215.000 jiwa ( 2003 ).
4. Puncak Tertinggi dan Titik Terendah Daratan
Puncak tertinggi di benua Australia adalah Mt. Wilhelm , di Papua New Guinea dengan tinggi 4.509 m dan titik terrendah adalah dasar danau Eyre kedalaman 15 m.
Puncak tertinggi di benua Australia adalah Mt. Wilhelm , di Papua New Guinea dengan tinggi 4.509 m dan titik terrendah adalah dasar danau Eyre kedalaman 15 m.
5. Iklim
Iklim Hujan
Iklim Sub Tropis
Iklim Tropis
Iklim Gurun
Iklim laut
Iklim Sub Tropis
Iklim Tropis
Iklim Gurun
Iklim laut
6. Fauna dan Flora
- Hutan Eukalitush - Kangguru
- Hutan Akasia – Koala
- Hutan Hujan Tropis - pLatipus
- Sepiniveks, sabana dan Stepa - Burung Cendrawasih
7. Karakteristik
- Sebagai negara benua.
- Terdapat batuan monolith terbesar yaitu Ayer's Rock yang memiliki tinggi 348 m dan panjang 31 km.
- Mendapat julukan negeri kanguru.
- Terdapat suku khas yaitu Aborigin.
- Benua paling tandus.
- Benua paling sempit.
B. Samudera didunia
1. Samudera pasifik
Karakteristik
- Sebagai Samudera terluas didunia.
- Terdapat titik terendah yang terdapat di Palung Mariana ( kedalaman 11.022m) sebagai palung terdalam di Filiphina.
- Sebagai tempat pertemuan antara garis bujur barat dan garis bujur timur sebagai batas penanggalan internasional.
- Dasar Samudera Pasifik sering terjadi gempa sehingga negara
disekitarnya sering terkena gempa bumi seperti Jepang dan Filiphina .
- Di Samudera Pasifik banyak terjadi gejala alam El Nino dan La Nina terutama di perairan yang dilintasi garis khatulistiwa.
2. Samudera atlantik
Karakteristik Samudera Atlantik
- Samudera yang di yakini sebagai pusat medan magnet bumi yaitu kawasan Segitiga
- Bermuda di Perairan Karibia(Amerika Tengah) yang menyebabkan gravitasi
besar sehingga sering dikabarkan hilangnya pesawat terbang atau kapal
yang melintas di atasnya.
- Sebagai samudera penghubung dunia lama (Eropa) dan dunia baru (Amerika).
- Sebagian besar wilayah Samudera Atlantik berada di garis bujur barat.
- Di Samudera Atlantik terdapat palung laut seperti Palung Puerto Rico (9.220m)
3. Samudera hindia
Karakteristik Samudera Hindia
Karakteristik Samudera Hindia
- Sebagian besar wilayahnya berada di belahan bumi selatan .
- Sebagai penyedia air hujan bagi gejala alam angin muson untuk wilayah Asia dan Australia.
- Memiliki arus yang tenang dan jarang terjadi badai sehingga aman untuk pelayaran dunia.
- Terdapat beberapa palung seperti Palung Jawa ( 7.450m), Palung Weber ( 7.440m) ,Palung Diamantina (7.102m).
4. samudera arktik
Karakteristik
- Sebagai samudera tersempit.
- Sebagian wilayahnya tertutup es.
- Samudera dengan jenis ikan paling sedikit.
- Samudera yang tidak terlewati garis khatulistiwa




